dee-lestari Aroma Karsa

Tahun-tahun terakhir, saya (agak) malas membeli buku-buku karya penulis Indonesia. Ketika menyempatkan diri untuk menelusuri rak-rak di toko buku, saya akan sangat selektif dalam memilih buku-buku yang kemudian saya bawa ke meja kasir. Bukan karena sebagian besar buku-buku tersebut ditulis dengan buruk, hanya rentang topik yang menarik minat saya semakin menyempit. Sampai sejauh ini, baru 2 buku yang benar-benar saya tunggu terbitnya; 1) Seri Naga Bumi karya Seno Gumira Ajidarma; dan 2) Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi karya Yusi Avianto Pareanom. Jujur, saya bosan dengan penulis-penulis “besar” yang hampir selalu berlomba-lomba untuk menulis cerita yang berhubungan dengan tragedi 1965 atau 1998. Seakan-akan cuma pusaran kejadian itu saja yang menarik untuk ditulis dan dikupas. Memang banyak penulis-penulis baru yang bermunculan dengan beragam topik dan gaya –hal yang bagus tentu saja—tapi kadang baik penceritaan maupun tema yang diangkat sama sulitnya dengan penyebutan nama Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie. Semakin sedikit buku-buku yang menarik minat, semakin sedikit pula saya meracau tentang buku-buku yang saya baca. Terakhir saya meracau tentang Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi karya Yusi Avianto Pareanom.

Aroma Karsa karya Dee Lestari.

Buku ini sebelumnya telah diterbitkan secara daring dengan konsep cerita bersambung dan cukup membuat beberapa teman-teman saya gegap gempita. Baru kemudian versi cetaknya diterbitkan. Waktu itu saya sama sekali tidak berminat untuk membacanya. Saya sempat dikecewakan oleh Inteligensi Embun Pagi –ekspektasi saya dibanting keras ke lantai oleh Dee–.  Minggu, 18 Maret 2018, entah karena apa, tetiba saya tertarik sekali untuk membaca Aroma Karsa karya Dee Lestari. Tapi karena mager untuk ke toko buku dan beli bukunya, saya sebarlah di beberapa grup WA, titip beli ke teman-teman yang mungkin sedang dekat Gramedia. Salah satu teman bersedia direpotkan dan keesokan harinya Aroma Karsa sudah berada di tangan saya.

Petang Senin 19 Maret 2018. Setelah membereskan kerjaan kantor, saya langsung hengkang ke Starbuck Sarinah –tempat parkir (hampir) saban sore sepulang kerja untuk membaca, menulis, atau melamun–, duduk di kursi favorit di teras depan menghadap lalu lintas jalan MH Thamrin, stok rokok aman, segelas Earl Grey dingin dengan classic 5 pumps, sampul plastik Aroma Karsa dibuka, dan saya kalap.

Novel ini berkisah tentang lika-liku pencarian puspa (bunga) misterius yang ditenggarai bersemayam di Gunung Lawu. Konstruksi ceritanya dibangun/dimulai dengan obsesi seorang abdi dalem kelas rendah keraton Yogjakarta untuk menemukan bunga misterius yang dapat mengubah dunia, Puspa Karsa. Hmn.. sebentar, sepertinya saya salah dengan mengatakan kalau konstruksi novel ini dibangun/dimulai dari obsesi penemuan bunga misterius. Bukan itu. Aroma Karsa dibangun dan dimulai karena satu hal, rasa penasaran. Rasa penasaran yang sama dengan yang merasuki Pandora, yang menuntunnya untuk membuka kotak larangan dan melepaskan petaka ke muka bumi.

Rasa penasaran yang meledak-ledak itu juga yang kemudian menuntun Janirah Prayagung, sang abdi dalem yang dengan statusnya sebagai abdi mendapatkan akses untuk menjelajah ke hampir setiap sudut istana, untuk menyisir petak demi petak kompleks istana tanpa dicurigai dan kemudian menjadi pencuri ulung. Tak sedikit benda-benda istana yang berhasil diselundupkannya keluar istana tanpa terendus. Dan, salah satu “pusaka” yang kemudian dia temukan secara tidak sengaja di balik tembok istana adalah jejak si bunga misterius. Dicurinya tiga tube pusaka sari pati Puspa Karsa yang dilengkapi selembar lontar dengan sekelumit cerita dan sederet kata:

Porsi pertama akan mengubah nasibmu.

Porsi kedua akan mengubah nasib keturunanmu.

Porsi ketiga akan mengubah dunia sebagaimana keinginanmu”

Rasa penasaran untuk memecahkan misteri puspa karsa menggelegak, dan untuk itu, dia butuh kendaraan yang bisa menopangnya. Dengan berbekal saripati Puspa Karsa dan resep-resep kecantikan keraton yang dicurinya, dibangunnyalah “Kemara,” Perusahaan jamu dan komestik yang kemudian berkembang menjadi perusahaan jamu dan komestik terbesar di Nusantara. Coba lihat Google, cek arti kata “Kemara”. Ya, artinya perjalanan. Kemara nggolèki Puspa Karsa. —Jagoan emang Dee ni ngasih nama–.

Diperkenalkanlah Jati Wesi, Raras Prayagung, dan Tanaya Suma. Orang-orang yang terseret Janirah. Di titik ini saya tidak mau menceritakan apapun tentang mereka bertiga. Cari saja sendiri. Saya lebih pengen meracau tentang topik, legenda, dan gaya penceritaan Dee saja.

Sejak dulu, saya selalu tertarik dengan mitologi, hal-hal yang agak klenik, sejarah, Bahasa Sansekerta, ilmu olah kanuragan, dan petualangan. Dee memberikan semuanya di dalam Aroma Karsa. Ditunjang dengan riset mendalam, Dee berhasil membangun dunia Aroma Karsa dengan gemilang. Olfaktorium, rentetan nama-nama latin yang sama sekali tidak saya mengerti, olah parfum, sejarah, nama-nama asing yang tidak pernah saya dengar, dan diingatkan kembali tentang sejarah Kalingga dan kerajaan yang hilang. Semuanya lebur dengan manis.  Tapi nanggung. Gak sampe klimaks. Menyisakan ampas.

Semakin jauh membaca Aroma Karsa, semakin banyak yang membuat saya mengerenyitkan kening. Pertanyaan-pertanyaan semacam, bagaimana caranya Jati Wesi, si anak lulusan SMA di Bantar Gebang, bisa tahu nama-nama latin dan istilah-istilah kimia yang sedemikian rumit? Internet? Bukannya dia hampir selalu tidak punya uang? Dia bisa mengendus badai dengan hidungnya? Terus? Udah segitu doang, kurang “sakti” ah dia. Satu hal lagi, saya “agak” terganggu dengan cara Dee membahasakan Jati Wesi. Dee memang saya tahu pandai menggunakan kata. Kata-kata yang digunakan seakan dipilih dengan hati-hati dan presisi, kemudian dibentuk menjadi kalimat-kalimat yang rapi dan tertata baik. Oh iya, Dee itu pandai “menyembunyikan rahasia-rahasia personal” di balik rentetan kalimat dan alur yang berlapis, lho. Ingatlah, tidak ada fiksi yang benar-benar fiksi. Hehehehe. Tapi ketika Bahasa yang sedemikian rapi dan tertata baik itu ditempelkan atau dibahasakan kepada/untuk karakter Jati, jadinya wagu. Tidak pas. Seperti membungkus kado sederhana dengan kain sutera, padahal menggunakan kertas kapas saja sudah cukup.

Selain istilah-istilah mentereng dan proses-proses rumit yang dijabarkan, yang lainnya serba nanggung dan kurang menggigit. Contoh? Suma dan Arya? Tak lebih hanya sekedar gimmick yang tak perlu. Lebih baik mereka dijadikan sahabat saja. Itu lebih dari cukup dan lebih…”kena”. Kemudian petualangan Lawu, saya membayangkan petualangan yang hingar binger, epic, dan gegap gempita! Petualangan menembus alam ghaib, alam batara dan batari! Semua harusnya mencengangkan, di luar nalar, dan agung. –Saya membayangkan Dwarapala dan Alas Kalingga itu seperti Lembah Imladris– Tapi yang ditampilkan kurang menggetarkan.

Terlepas dari beberapa hal di atas, Dee berhasil membuat saya tercengang untuk satu hal. Mengenai perempuan dan kehendaknya yang bisa merusak. Saya bisa mengatakan kalau novel ini menampilkan perempuan sebagai karakter penting, bahkan bisa dikatakan sebagai karakter utama. Baik Janirah Prayagung, maupun Raras Prayagung dan Tanaya Suma semuanya memiliki karakter yang sangat kuat dan berkuasa. Tidak ada yang bisa membantah hal tersebut. Apapun yang mereka kehendak atau niatkan, akan mereka dapatkan. Tapi kekuasaannya atas kehendak dan niat yang kuat itulah yang membawa kehancuran bagi mereka sendiri dan alam sekitar.

Di dalam buku Putri Cina karya Sindhunata, diceritakan bagaimana raja-raja Jawa yang berebut kekuasan dan saling menghancurkan satu sama lain. Kehancuran itu disebabkan oleh nafsu untuk berkuasa. Selama nafsu itu tidak bisa dikendalikan, maka Tanah Jawa tidak akan pernah damai. Laki-lakilah sumber bencana di Tanah Jawa. Di dalam Aroma Karsa, yang menjadi biang petaka adalah perempuan. Diceritakanlah mengenai raja Majapahit yang tak pernah tercatat di dalam sejarah, Mahesa Guning. Raja yang terpikat Sanghyang Batari Puspa Karsa yang menjelma perempuan cantik luar biasa. Batari Puspa Karsa ini adalah seorang dewi sakti yang menggegerkan alam dewa dewi. Dewi ini memiliki kemampuan untuk mengendalikan siapapun (dan apapun yang bernyawa). Dengan pesonanya yang semerbak, dia akan memancing dan memikat hewan dan manusia untuk mendekat, kemudian akan dihisapnya/dimakannya sampai mati untuk memperkuat dirinya. Tak ada yang bisa mangkir dari pesonanya. Sang dewi digambarkan memiliki wujud yang mengerikan, tapi dia pandai memakai topeng terbaik untuk mengelabui mangsanya. Apakah itu dalam wujud anggrek berhelai emas atau titisan berwajah jelita. Sedemikian berbahayanya sang dewi sehingga para dewata bersekutu untuk memutusnya dari dunia, mengurungnya di dalam gua gelap tak terjelajah dan dikelilingi pelbagai tumbuhan racun yang mematikan. Jangan sampai dia terbangun. Sekali dia terbangun, binasalah dunia. Perempuan dengan keinginan yang kuat dan kemampuan untuk mengendalikan harus dimusnahkan. Dikuras darahnya sampai tak bersisa setetespun. Monstrous feminine. Mahesa Guning mengorbankan hidupnya untuk menjadi Amongwana (penjaga hutan) untuk menjaga agar Puspa Karsa tak terbangun, memagari Alas Kalingga, penjara Puspa Karsa. Agak menarik pemilihan nama Alas Kalingga ini. Alas Kalingga >> Hutan Kalingga >> Kerajaan Kalingga >> Kerajaan yang dipimpin oleh Ratu Shima. Ratu Adil yang memotong kaki anaknya sendiri karena tak sengaja menyenggol barang yang bukan miliknya. Ratu yang dicintai oleh rakyatnya. Dee pasti tahu mengenai hal ini.

Tentu menarik untuk menelusuri monstrous feminine versi Dee Lestari ini. Ada yang mau mengupasnya lebih lanjut?

Akhir kata, –udah capek mau nulis lebih panjang. Mari tuntaskan saja. Maafkan :D– Aroma Karsa ini cukup membuat saya terhibur. Berhasil memaksa saya untuk menamatkan 696 halamannya hanya dalam satu malam dan kemudian keesokan harinya menyesal karena sudah terburu-buru. Dee juga berhasil membangun dunia dengan  alur, penokohan, pengembangan konflik, hingga plot twist –yang meskipun agak mudah untuk ditebak,– dengan rapi. Tapi sebagai novel yang utuh, Aroma Karsa sama seperti Puspa Ananta, masih belum sempurna dan membutuhkan kangga.

Sekian racauan saya.

Advertisements

5 thoughts on “Aroma Karsa – Wangi yang Menyamarkan Wujud Kematian yang Mengintai

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s