Menjelajah Nusa-Nusa (di) Tenggara


Layar jam tangan menunjukan pukul 11 malam. Suara dengkuran sudah mulai sahut bersahutan. Tubuh-tubuh tersaput gelap bergelung. Tak terlihat jelas. Di atasku, ribuan bintang berpendar. Jarang sekali aku mendapatkan kesempatan untuk dapat menikmati pagelaran langit malam semeriah ini. Kota-kota tempatku tinggal sudah lama ditinggalkan gemintang karena kabut asap menyesak nafas mereka. Mereka tentu saja hengkang mencari tempat hidup di mana bisa bernafas dengan sepuasnya. Jelas tempat ini salah satu tempat favorit bintang-bintang migrasi. Waiting for Sunset – Jubing Kristanto berulang menemaniku malam ini. Ya aku tahu, matahari sudah lama berlalu. Tapi bukankah matahari juga adalah gemintang? Dan lihatlah, laut ini dinaungi ribuan matahari!

Ini malam pertama aku bermalam di tengah lautan. Di atas kapal Putri Sakinah. Kenapa hampir sebagian besar kapal-kapal dinamai nama perempuan? Permukaan laut memantulkan temaram cahaya lampu-lampu pucat, mengalun layaknya selendang sutera biru tua. Aku yakin di bawah laut yang bagai sutra itu, ada monster penyesap daging manusia. Jangan pernah percaya ketenangan yang berlebihan. Rahasia-rahasiamu berada di dalam genggaman kekuasaannya. Terkunci di sudut-sudut senyumnya yang tak kentara.

11:30 Rokok tinggal sebatang. Satu-satunya yang tersisa. Kusesap pelan-pelan. Di mana kucari Surya 16 di tengah laut begini? Berhematlah. Sesekali aku menoleh ke belakang. Tubuh-tubuh meringkuk semakin ketat, jangan ada celah bagi angin malam untuk menelusup. Tak ada yang membekal Tolak Angin. Dengkuran masih sahut menyahut. Ada yang bersila meditasi. Tenang. Tak terusik. Apa yang dirunutnya? Sinyal lenyap. “Ceki!!” tiba-tiba suara berat serak memecah siur angin. Sial, para nahkoda bermain judi, taruhanya lintingan rokok putih. Mengganggu orang lagi melamun saja! Gabung ah. 

Nah, aku mengurungkan niat untuk bergabung dengan mereka, kemampuanku bermain capsa tak mau kuadu dengan pelaut-pelaut bermata merah berkantung gelap itu. Tak mau malu. Lagipula, tubuh mereka menguarkan aroma basin, bikin mual. Air tawar susah didapat di sini. Terlalu banyak garam. 

Pukul 12:15. Mataku kembali terpaku pada bintang-bintang Bimasakti. Leherku kaku. Kursi plastik hijau reot kaki-kakinya. Kesigapanku diuji di sini kalo tidak mau terpelanting ke lantai kapal karena kursi sialan ini. Sebelah telinga masih dimanja Jubing, sebelah lagi tumpang tindih: dengkuran, derak papan kapal, burung Kuuu-Kuuu yang tak tampak wujudnya, dan deburan ombak yang sepertinya sudah mengantuk. Aku belum mau tidur. Laut Padar di tengah malam benar-benar menenangkan. Aku rindu.

12:30 bintang jatuh. Melesat vertikal dari langit, menghujam pucuk-pucuk bukit. Cemerlang sekejap lalu musnah ditelan gulita. Tak sadar aku berteriak tercekat, lalu segera menutup mulut yang hampir saja terbahak, lalu menoleh ke belakang, jahil, menatap tubuh-tubuh meringkuk kalah perang. Aku dapat bintang jatuh! Bahak kutelan, permohonan menghambur racau. “Aku mau sekolah lagi! Aku mau lebih bahagia! Aku mau diamond of Hope! Aku mau…kamu!” Eh kok malah kamu yang keluar?! Bedebah! Gak bisa ditarik kembali ya permohonan ke bintang jatuh?! Mau kurevisi!! AKU MENUNTUT KEADILAN!

“Masuk aja, Mas. Kasur di dalam masih ada. Yang lain udah menyerah, masuk ke kamar masing-masing.” Itu Mas Bayu yang terbangun. Diganggu angin panas kipas pendingin yang menghajar setengah mukanya. Nakal kamu kipas! “Tuh ajak Mas Andrys. Meringkuk gitu tar sakit pinggang pulak dia”

Belum tidur, Wan? Masih ritual?” tanyanya setengah sadar. Entah dia dengar atau tidak jawabanku. Mas Bayu dan Mas Andrys sempoyongan masuk ke dek dalam. Gemuruh dengkuran berpindah tempat. Ohhhh ic.

01:00. Saatnya tidur. Bintang-bintang masih memenuhi angkasa. Endapan-endapan sudah cukup banyak yang dilarung. Dadaku terasa lebih lapang. Mataku pedas. Kemudian terlelap di antara angin yang diam dan gelombang yang gemuruh di dalam tidur. 

04:15. Alarm menjerit. Boleh lima menit lagi?

06:10. Jatuh cinta kepada Padar. 

Labuan Bajo, 28 April 2017

Patra Punggel


Aku bertemu seorang laki-laki yang memantik nafsu membunuhku menguar hebat. Sedemikian kuat sehingga membuat tubuhku kebas mati rasa setiap kali aku memikirkannya. Gerahamku aus gemelutuk. Kutelan serpih-serpihnya yang bertanggalan. 

Aku bertemu dengannya sekitar 8 tahun (atau 9?) yang lalu. Antahbrantah. Tiba-tiba jalur kami bertumbukan. Rambutnya galing. Senyumnya cemerlang. Namanya salah tulis, seharusnya namanya berarti perahu besar, tapi apa boleh buat. 

Sebenarnya aku lupa kapan pertama kali nafsu membunuh itu muncul. Mungkin sudah lama, tapi tak kusadari kapan benih itu mulai bertumbuh. Perlahan mengeluarkan sulur-sulur berduri yang mengikatku dari dalam. Ketika aku tersadar, sudah terlambat. Sulur-sulur itu sudah menjerat hatiku, pikiranku. Erat. Menghujamkan duri-durinya. 

Aku pernah menguburnya hidup-hidup. Pertama-tama, kutipu dia sehingga tubuhnya dapat kuikat kuat. Mulut kusumpal saputangan basah. Saputangan milikku. Kujebloskan ke dalam peti trembesi. Dia samasekali tidak bergerak meronta. Diam tak bergeming, menatapku lekat-lekat. Matanya gelisah, tapi aku tahu, tatapan itu bukan karena takut mati. Dia mengasihaniku. Bangsat! senyum cemerlangnya membias samar di sana. Kubanting tutup peti kuat-kuat. Lalu kutimbun lubang tempat peti trembesi terbujur. Aku terbahak di atas gundukan tanah merah. 

Tiga hari setelah hari penguburan itu, aku datang ke makamnya. Tergesa. Kugali kembali tanah merah itu dengan tanganku. Panik. Kalut. Berduka. Darah bercampur tanah mengucur dari jari-jari yang harus rela berpisah dari kuku. Air mata tumpah membasahi gugus-gugus tanah bergumpal. Ketika peti trembesi itu akhirnya terbuka, dia di sana. Tersenyum. Tangannya diam, tapi matanya memelukku erat. Seerat sulur-sulur berduri yang semakin mencengkeram. 

Kali kedua aku berusaha membunuhnya dengan cara mengurungnya di dalam ruang besi kedap suara. Begitu rapat ruang itu tak ada celah yang dapat dilalui suara. Tak ada cahaya yang dapat mengintip ke dalam. Kulempar tubuhnya seperti sampah. Kunci ruang kulebur tak berbentuk. Mati kau

Tak sampai 24 jam, terdengar gedoran-gedoran keras, bukan berasal dari dinding besi, tapi gedoran itu menggema di otakku, di dalam pikiranku. Buku jari manisku patah menghantam dinding berusaha meredam gedoran yang tak henti. Dengan histeris kuruntuhkan dinding-dinding hitam ruang besi. Tubuh gemetar bersimbah keringat. Tatapannya menghambur keluar merengkuh tubuh yang bersimpuh luruh. Dengan pandangan nanar, dapat kutangkap sudut-sudut bibirnya tertarik pelan. Tersenyum getir menyaksikan kegagalanku. Kegagalan yang menyuburkan sulur-sulur berduri. 

Lain waktu, kudapati diri bersimpuh di hadapan tungku tanah liat dengan bara yang mengepulkan asap pekat setanggi. Setumpuk daun sirih hijau, pinang merah, gambir, tembakau pesing, kapur basah, dan sebentuk patung kecil kayu jati berderet di sekeliling tungku. Secarik foto yang menampilkan wajahnya dibuntal asap setanggi. Sambil mengunyah sirih, kugenggam patung kecil dengan kedua tanganku. Mataku lekat menatap matanya yang balik menatap dari dalam foto. 

“SHANTI KARMANK SWAPNA DARSHANE GRAH PIDAASU CHOGRASU MAAHAATMYAM SRINU YAANMAM”

Selesai kulapatkan mantra, kuludahi fotonya. Liur merah darah. Seketika, angin berhembus keras mengobrak-abrik sesaji. Tulah menghantam diriku sendiri. Telak. Tak tertangkis. 

Setelah berulang kali berusaha untuk membunuhnya, berulang kali pula gagal. Aku menyerah. Sulur-sulur berduri sempurna membelit tubuhku. Kubiarkan saja. Kematian sepertinya lebih dekat padaku, daripada darinya. Aku ingin menikmati saat-saat ini, saat sulur-sulur itu mencengkeram hati dan pikiranku, menghisap darahku melalui duri-durinya yang menghujam. Saat aku bisa menghidupinya dengan apa yang masih tersisa. Bangsat.

Segelas Besar Teh Dingin

Waktu menunjukan pukul sebelas malam, gerimis sepertinya tidak akan berhenti sampai besok pagi. Sesosok angin berambut oranye menghampiri dan menepuk pundakku, mengangguk kecil, kemudian duduk di kursi di samping kanan yang dari siang kosong tak berpenghuni. Kubiarkan.

Kedai kopi ini masih begitu gaduh, bising. Malam sudah lewat sebagian. Tawa-tawa riuh, sebagian menebarkan aroma mesum. Sepertinya bulan yang menggelap memicu pemilik tawa untuk beranak pinak. 5 orang laki-laki berbaju hitam bergerombol di seberang tempatku duduk, di pinggir jalan, sibuk memotret jalanan basah yang hampir kosong. Dua orang memayungi sisanya. Mereka mau menangkap jalur sinar warna-warni yang biasanya memang berlesatan di jalan yang sepi. Salah satunya berpantat bulat dan penuh. 

Angin berambut oranye tetap diam di samping kanan, matanya tak berkesip menatap jauh, entah apa yang dilihatnya begitu lekat. Tak kuusik. Mungkin dia sama sepertiku, hanya ingin sendiri tak mau diganggu.

Mau kemana?” Tanyanya singkat ketika melihatku bersiap-siap. Penuh selidik. “Aku tak percaya kepadamu”, lanjutnya setelah mendengar jawabanku.

Pernah kutulis dulu, kebenaran hanya untuk mereka yang tak suka berbohong. Aku tak suka berbohong,  hanya pandai membungkus kebenaran. Tidak dengan memutar balik fakta atau membelokannya ke arah yang sebaliknya, tapi membungkusnya dengan bunga-bunga, sehingga tersamarkan atau aroma wanginya saja yang tertangkap indera. Aku bukan pembohong, cuma seorang penyamar ulung. Katakanlah begitu. Percaya? Tidak juga tak mengapa.

Maka kubawa ketidakpercayaannya dan kutukar dengan segelas besar teh dingin. Di samping kanan, angin berambut oranye tetap tak bergeming.

Aku berkata yang sebenarnya, memang tidak berniat menemui siapapun. Hanya ingin sendiri. Ah sebenarnya tidak begitu juga, aku rindu malam. Tapi malam hanya bisa ditemui jika sendiri. Itulah mengapa aku pergi. Demi segelas besar teh dingin…dan malam yang sendiri.

Motor vespa kuning mogok di jalan. Pengemudinya turun, mengguncang-guncang pantat kendaraannya yang besar, dicondongkan ke kanan, digoyang-goyang, tak juga menyala. Bensin diperiksa, penuh. Busi dicabut kemudian digosok-godok amplas, dipasangkan kembali. Starter digenjot berulang-ulang, tetap tak menyala. Oli sampingnya ternyata yang kerontang. Mau teh dingin mungkin, Vesp? Setelah pengemudinya bersimbah keringat, mesin vespa kuning berputar, suaranya cempreng. Tetetetetetet. Vespa kuning dan pengemudinya berlalu melanjutkan perjalanan yang sepertinya memang sudah kemalaman. Helm pengemudinya juga kuning.

Pemutar musik di telingaku melagukan denting sitar, gendang India, biola, dan ditimpali Bansuri dengan nada rendah. Aroma kayu basah menguar entah dari mana. Mungkin gerimis menghadiahi malam dengan aroma kebanggannya.

Penyemarak kedai kopi mulai beranjak satu per satu. Masih terhitung ramai. Para peracik minuman masih sibuk di belakang meja. Pesanan masih terus berdatangan. Angin berambut oranye tetap di posisi semula. Membatu. Dia masih hidup, tenang saja. Dadanya masih meriak dengan ritme tetap. Santai.

Sudah tidur? Apakah kau bawa keraguanmu ke dalam mimpi? Aku juga suka bermimpi. Di dalam mimpi, aku bisa terbang. Seperti yang selalu kuceritakan.  Mengkhayal itu menyenangkan, bisa menjadi apapun yang kusuka, yang tak bisa terwujudkan di alam nyata. Menjadi pendekar tanpa tanding, menjadi burung yang bisa terbang kemanapun menunggang angin, menjadi tukang tenung yang insyaf terus kambuh lagi terus insyaf lagi terus ujung-ujungnya malah membuka perguruan tenung tersohor –ilmu yang berfaedah itu harus disebarkan, bukan?-, menjadi cicak yang mengintip pasangan muda sedang bercinta di kamar kos-kosan sampai kaca-kaca mengembun, menjadi hantu-hantu yang larinya akan cepat sekali kalau dia berlari mundur, banyak sekali. Sebagian besar khayalanku berhubungan dengan kecepatan. Ya, pada dasarnya aku takut kecepatan. Siku kananku pernah pecah karena pengendara motor yang kutumpangi melaju dengan kecepatan tinggi, kemudian nyangrang menghantam aspal. Sial, sekarang tanganku bengkok.

Sampai di titik ini, mungkin ada yang bertanya, apa yang sebenarnya ingin kutulis? Apa yang ingin kusampaikan? Sebenarnya tidak ada, aku hanya ingin meracau saja. Hey! Ada kucing hitam belang putih (atau kucing putih belang hitam? Ah sudahlah) mengesek-gesekan badannya ke kakiku! Telinganya keriting dihajar liur kutu. Kumisnya gundul sebelah. Kasihan, mana kedai ini tak menjual ikan. “Mulai sekarang, namamu Elbandito.” Dia mendengus sebal lalu pergi. Mukanya seperti pembegal. Dasar kucing yang tak tahu berterimakasih, sudah diberi nama juga.

Seorang tamu kedai baru datang, laki-laki berbaju dan bercelana hitam.  Wajahnya bagus. Pewangi yang menyengat. Anggota gerombolan anak muda-anak muda bertawa mesum yang duduk di sisi kiri. Matanya curi-curi pandang kepadaku.

Teh dingin sudah tandas 2/3 gelas. Rokok sudah berpindah ke bungkus ke dua. Bungkus sebelumnya sudah kosong, kuremas dan kumasukan ke tempat sampah. Angin berambut oranye masih diam. Aku menoleh ke kanan kiri, jangan-jangan ini Oranye hanya tampak di mataku saja. Daerah ini memang agak seram, begitu rumor yang kudengar. Pernah ada yang mati tragis di sini, kena ledakan bom yang dilemparkan orang-orang yang meneriakan nama Tuhan. Pelempar bomnya juga mati. Entah siapa yang masuk surga, pelempar bom yang meneriakan nama Tuhan atau pejalan kaki yang sial dan menjadi korban karena melewati daerah itu di waktu yang salah. Toh  siapa saja bisa masuk surga, termasuk Madonna dan Lady Gaga. Tapi setahuku, tak ada yang berambut oranye, baik pelempar bom maupun pejalan kaki. Jangan-jangan?…..

Ah, aku kebelet kencing. Pemutar musikku sedang melagukan Tum Hi Ho, lagu dari film India, judulnya Aashiqui, yang berarti cinta. Kencingku tersendat.

Kometas

dsc_0801

“Teriakku pada semesta

bergaung, melebar, dan kemudian sirna

tertelan hampa.

Maka terbakarlah sayap, melepuhlah cakar,

dan teriakku kembali bergaung dalam sunyi.

Seberkas kometas melesat pesat dalam jumawanya.

kucoba menangkap ekornya untuk melontarku ke dalam fana kembali,

kembali aku sepi.

Maka teriakku pada semesta

bergaung, melebar, dan kemudian sirna

tertelan hampa

senyap tak mampu lagi mendengar,

senyap tak mampu lagi mencerna,

senyap tak mampu lagi mengindra, dan

senyap tak mampu lagi mengurai duka”

Ketika aku tersadar, tubuhku tergeletak tak berdaya di tepi sungai berair keruh. Berselimut lumpur basah yang mengalir bersama hujan yang menderu bagai dicurahkan dari langit. Tubuhku kebas, dan masih dapat kucium aroma sangit sayapku yang terbakar dan pahit cakarku yang melepuh. Kematian mengintai. Deras hujan menyamarkan ketidakberdayaan yang melingkupi.

Dengan bersusah payah kuseret tubuhku ke arah pokok sebatang pohon Waru yang tumbuh condong ke arah sungai, kemudian berlindung di bawah ceruk akar-akarnya yang mencengkeram bumi dengan kukuh. Aku jatuh tak sadarkan diri lagi.

Waktu tak lagi dapat kuduga ketika aku sadar, lumpur yang membungkus tubuhku telah mengering. Kucoba menggerakkan sayap dan cakarku, kaku. Perlahan aku keluar dari bawah ceruk akar, merayap ke tepi sungai untuk sekedar menyesap airnya yang keruh. Biji-bijian yang terserak di sekitar tepi sungai cukup mengenyangkan perutku dan memberiku sedikit tenaga untuk meloncat menggapai ranting-rating kecil Waru yang menjela tanah.

Sungai ini tidak terlalu besar, airnya yang keruh mengalir cukup deras entah menuju kemana. Aku tidak mengenali tempat ini, tidak mengenal sungai ini, dan tidak mengenal pohon Waru berdaun lebar dan berbunga berwarna kuning kemerahan yang sekarang menjadi tempatku bernaung. Cukup lama aku berdiam diri, tenagaku sudah mulai terkumpul kembali, walau aku tahu itu belum cukup untuk menguatkan sayapku dan terbang.

Tepat ketika niatku untuk  kembali ke bawah ceruk akar pohon, seorang laki-laki berbaju dan bercelana hitam lusuh, memakai caping daun nipah menutupi kepalanya datang mendekat. Tangannya membawa kail batang bambu kuning dan wadah yang terbuat dari jalinan Purun. Tanpa bersuara dia duduk di dekat pokok pohon, mengeluarkan kaleng kecil berisi cacing-cacing tanah coklat. Aku tak bergeming, menyembunyikan diri di balik daun-daun waru yang lebar. Laki-laki itu sudah tua, paling tidak begitu yang terlihat. Kulit mukanya keriput dan dipenuhi bintik-bintik hitam, begitu juga tangannya. Bibirnya terkatup rapat, tegas, dan aku menangkap pancaran welas asih di wajahnya, teduh.

 Semoga dia tidak menyadari keberadaanku.

Hampir seharian dia memancing, tak beringsut. Wadah purunnya telah terisi ikan-ikan yang berbentuk panjang dan pipih, dengan kepala yang agak membulat, dan sisik berwarna perak. Matahari mulai condong ke Barat ketika akhirnya dia beranjak pergi, dalam sunyi.

Kupastikan dia benar-benar telah pergi sebelum kemudian akupun beranjak turun dan bersembunyi di dalam ceruk pohon Waru.

***

Keesokan harinya, matahari bersinar cerah dan hangat. Tubuhku mulai membaik. Paling tidak kaki dan sayap sudah dapat kugerakan tanpa menimbulkan sakit yang mendera. Aku keluar dari bawah ceruk pohon, menaiki pohonnya, dan kemudian melompat dari satu ranting ke ranting yang lainnya.

Tak jauh dari tempatku terjatuh kemarin, ada sebuah kampung yang tidak bergitu besar. Rumah-rumah di kampung itu dibangun dari kayu-kayu hitam dan disanggah tiang-tiang kayu yang juga berwarna hitam. Kicau burung beragam jenis riuh rendah. Semoga tak ada yang menyadari kehadiranku.

Suara riuh rendah yang kudengar berasal dari sebuah tanah lapang di sisi kebun kelapa. Tiang-tiang bambu tinggi menjulang ke udara, sangkar-sangkar indah menggantung di puncak. Seekor burung menghuni masing-masing sangkar. Cantik sekali. Mereka bernyanyi. Merdu. Saling membanggakan tuan masing-masing yang mampu membuatkan mereka sangkar berlapis emas, memberi makan biji-bijian terbaik yang didatangkan dari hutan-hutan rimba liar, memberi air minum yang didatangkan dari mata air-mata air di puncak gunung nan segar dan manis. Ketika puluhan burung-burung itu saling membanggakan tuannya, puluhan orang yang berkerumun di bawah tertawa dan bertepuk tangan dengan gembira. Burung-burung bersangkar emas yang berbulu dan bersuara paling merdu dalam membanggakan para pemiliknya mendongak jumawa, begitu juga tuan-tuan mereka yang berperut buncit dan bermuka berminyak.

Tiba-tiba aku merasa sepi, dunia mendadak senyap. Tuanku? Kometas, dia telah pergi membelah cakrawala dan aku tak sanggup mengejar pesatnya. Tak ada lagi teman melandai bumi, tak ada lagi teman melintas samudra, dan tak ada lagi ….teman.

Angin terdiam, riak air tenggelam di dalam arusnya, genderang dedaunan membeku, burung-burung di dalam sangkar emas terkesima dengan paruh ternganga dan mata terbelalak, dan para tuannya bergerak cepat memerintah sana sini. Menunjuk-nunjuk.

Serta merta ratapku terhenti. Dengan segenap tenaga yang masih tersisa, aku bergerak secepat yang bisa kulakukan, menyelinap di antara dedaunan.

Teriakan-teriakan yang sedari tadi tumpeng tindih memuji nyanyian para burung-burung bersangkar emas sekarang berganti menjadi teriakan-teriakan memerintah. Para tuan kaya mengerahkan seluruh pembantunya untuk mengejarku, tak ada lagi yang peduli kepada burung-burung indah di puncak tiang-tiang kayu tinggi. Mereka telah membisu, dan para tuan tidak butuh burung bisu, mereka membutuhkan burung yang pandai bernyanyi. Aku.

Selang beberapa waktu, lapangan itu sepi. Sangkar-sangkar emas diturunkan, dan para tuan kaya telah pulang menggerutu karena tidak berhasil menangkap seekor burung berbulu hitam bersuara merdu.

Aku masih diam tak bergeming di antara dedaunan, nafas terasa berhenti. Pada saat itulah baru kusadari bahwa lapangan itu belum sepenuhnya ditinggalkan. Seorang laki-laki tua bercaping daun nipah berdiri di bawah salah satu pohon kelapa di sisi lapangan. Matanya tepat tertuju padaku. Dia berdiri diam di sana, dengan bibir tersenyum dan air mata yang bercucuran. Laki-laki tua pemancing ikan.

Perlahan dia mendatangi tempatku bersembunyi dan aku diam tak bergerak. Tak kulihat bahaya datang bersamanya, dia begitu damai dan tenang. Dengan senyum lembut dia menjulurkan tangannya ke arahku. Aku melompat ke telapak tangannya dan merasa damai di sana. Matanya…matanya memancarkan cahaya kometas.

Dengan hati-hati dia menangkupkan tangannya dan membawaku ke suatu tempat yang mungkin tempat tinggalnya. Rumah tinggalnya sama sekali berbeda dengan rumah penduduk yang kulihat di perkampungan tadi, hanya gubug kayu segi empat bercat biru dengan coretan-coretan tak beraturan memenuhi dinding.

Dia meletakanku di atas tumpukan pakaian lusuh, dan kemudian dia memandangiku dengan matanya yang bercahaya kometas, basah. Mulutnya terkunci.

***

Aku menemukan kembali Kometasku yang hilang. Dia tinggal sendiri di rumah ini, tak pula kulihat dia memiliki kerabat. Sebaliknya, sering kali kulihat pandangan mata yang penuh kebencian dari para penduduk desa setiap kali dia berpapasan dengan mereka ketika dia pergi memancing. Dia selalu meletakkanku di telapak tangannya. Dia bercerita banyak hal kepadaku, sayangnya tak satu katapun yang dapat kumengerti. Dia mengatakan sesuatu yang sepertinya berbunyi “pengelana” dan “priyayi” dan “surhan atau surjan” dan “arjuna”. Sebagai ganti ceritanya, aku menyanyi untuknya, berharap menyapu kesedihan yang menggantung di padangan matanya.

Sebentuk cincin berkarat melingkar di jari manisnya. Cincin yang melukai jarinya hingga membiru kehitaman.

Kuceritakan bagaimana aku sampai di tempat ini, menunggang badai seperti yang diajarkan oleh seekor elang padaku. Aku ingin terbang setinggi yang bisa dilakukan oleh seekor elang, tidak., aku ingin terbang lebih tinggi daripada seekor elang, aku ingin terbang setinggi yang bisa dilakukan oleh kometas. Kometas begitu gagah, dalam keceriaan dan kejumawaannya bergerak pesat dari sudut cakrawala yang satu ke sudut lainnya. Dia sering menggodaku dengan senyumnya yang rupawan, dengan gerakan indah yang ia peragakan padaku, tapi dia tidak pernah merendahkan terbangnya. Dia begitu bangga bisa mencapai ketinggian yang tak satu mahlukpun dapat mencapainya, bahkan tidak oleh seekor elang. Sampai suatu ketika, aku berhasil mencapai puncak tertinggi gunung Kubang. Melontarkan diriku di atas badai yang sedang mengamuk. Lidah-lidah badai melontarkanku mengangkasa, mendekati kometasku. Sial, sayapku tak sanggup menunggang hampa seperti seekor kometas, aku butuh angin sebagai tunggangan, aku tidak seperti kometas yang bisa membakar hampa menjadi sayapnya. Dengan segenap upaya aku berusaha menangkap ekor kometas yang melintas di depanku, terlalu cepat, aku tak sempat memeluknya, tak sempat menangkapnya. Bulu dan cakarku terbakar apinya dan akupun terlempar kembali ke bumi menghantam tanah.

Laki-laki tua tersenyum mendengar nyanyianku. Dia tidak mengerti ceritaku sama seperti aku tidak mengerti ceritanya. Aku hanya mencintainya. Begitu saja.

***

Saatnya tiba…

Pada suatu pagi yang cerah, ketika aku pulang dari melatih kekuatan sayapku, aku melihat gubug biru terbakar hebat. Percik bunga-bunga api dan asap hitam membumbung ke angkasa dan di depan rumah itu, berdirilah laki-laki tua bermata kometas.

Aku hinggap di telapak tangannya. Dengan tersenyum dia mengelus-elus kepalaku dan kemudian melontarkanku ke angkasa sambil berteriak “AKU NADHI. AKU MENCINTAIMU DAN INGATLAH AKU!!”. Moksa menjadi udara.

Naharabul Anggiteg

“Kekasihku hilang ditelan senja” ujarnya sambil tersenyum kecil. Pandangannya lekat menatap matahari yang mulai lingsir menebar warna-warni merah, jingga, nila, keemasan. Rokok daun Lisan yang terjepit di ujung jari telunjuk dan jari tengahnya terbakar sia-sia.

****
Hari itu adalah hari keempat kami bersama-sama menjelajahi Teluk Cenderawasih. Setelah seharian menyelam berburu hiu paus di bagan-bagan Desa Kwatisore, petang ini kami hanya duduk-duduk saja di dermaga melihat anak-anak berambut galing memancing ulur. Namanya Warane. Pemandu yang menemaniku menjelajah kawasan Teluk Cendrawasih. Kulitnya putih kekuningan, rambutnya yang galing dipangkas pendek, hidungnya ramping -tidak seperti hidung kebanyakan orang Papua-, matanya sendu tapi memiliki senyum yang begitu hangat. Aku sempat meragukan kalau dia asli Papua, bahkan lebih-lebih lagi aku meragukan ketika dia mengatakan kalau jika sedang tidak ada wisatawan yang memerlukan jasanya sebagai pemandu, dia adalah nelayan penangkap Cakalang. “Mana ada nelayan berkulit kekuningan! Kulitku saja sudah gosong mengelupas, jadi ijo begini, padahal baru 4 hari di sini!” Protesku. “Aku orang gunung,” jawabnya. Dia tertawa ketika menangkap gelagatku yang akan melanjutkan protes. Lantas menyodorkan beberapa helai daun, “sudah sampai di sini, kamu harus mencoba rokok lokal. Biar hemat Surya 16-mu.”

“Ini daun Subukali, pengganti tembakau, dan Ini daun Lisan, di desaku daun ini disebut Yerebel Ingga., pengganti kertas papir.” Warane menyodorkan lembar daun-daun kering kecoklatan yang dikeluarkannya dari kantong kecil. “Ada dua pembeda orang Papua, kalau dia merokok, dia pasti orang gunung. Kalau dia memamah pinang, bisa dipastikan dia orang pantai.” Jelasnya.

Aku tidak terbiasa melinting rokok, bahkan dari dulu, hasil lintinganku selalu jadi bahan tertawaan teman-teman perokok “gembira”. Walhasil, seperti yang kuduga, Warane tertawa melihat hasil lintinganku yang amburadul. Gemuk di tengah dengan lipatan yang basah kuyup oleh air liur. Hasil lintingannya begitu ramping dan bagus. Aku nyengir.

Pada hisapan pertama cengiranku bertambah lebar, “Yahe!!…fano!! ENAK!” Rasanya hampir sama dengan rokok yang biasa kuhisap, tapi rasanya lebih ringan. Manis. Rasa hangat mulai menjalari tengkukku, naik ke kepala.

“Senja jarang sekali singgah di desa ini. Hanya sesekali saja dalam satu tahun. Desa ini lebih akrab dengan hujan. Hampir tak pernah alpa untuk singgah. Awan gelap bergumpal-gumpal menjelang pukul 5, menyisakan sedikit nila di baliknya. Mendekati pukul 6, rintik mulai turun dan jangan harap reda sampai pukul 7. Setiap sore. Setiap hari. Itulah mengapa desa ini dinamai “Kwatisore”, Kwati dan Sore. Kwati berarti hujan.” Terang Warane sambil menyedap lisan. “Berkebalikan dengan desa tempat asalku, senja tak pernah alpa. Selalu meriah. Merah, jingga, nila, keemasan, dan kadang bercampur semburat biru. Dirayakan dengan suka cita. Namanya Masahangguli, jauh di pedalaman Apahapsili. Desa pemangsa kulit manusia.”

Ya, desaku memang terkenal dengan kebiasaan yang menyeramkan, memakan daging manusia. Daging para pengkhianat. Dikerat sampai kikis, kemudian disantap di bawah meriahnya warna-warni senja. Sambil menari riang-riang. Kekasihku hampir menjadi korban. Untungnya aku berhasil menyelinap membawanya pergi ke lautan. Tempat di mana angin dan gelombang melindungi kami.

Namanya Lumintang. Anak kepala suku desa Walashi. Musuh bebuyutan desaku. Dia dianggap bersalah dan berkhianat kepada adatnya, karena mencintaiku. Ayahku menganggapku pengkhianat, karena berani lancang mencintai yang tak seharusnya kucintai. Maka daging kami menjadi buruan. Senja tertelan merah. Berseling lesatan anak panah dan tulang belulang kaki kasuari, mengejar pelarian kami.

Kutuk ditorehkan. Kami menjadi tumbal bagi Senja. Menggelegar membelah langit. Kami gemetar, luruh. Kudekap erat kekasihku, kurapatkan tubuhnya ke degup jantungku yang berdentam. Kemana kami harus meminta tolong?! Kemana kami dapat berlindung?! Seluruh alam raya menjelma mata-mata.

Kwatisore tempat kami berlindung. Tak ada senja di sini. Hujan lebih berkuasa. Kami hanya mendengar gemuruh tulah yang mengejar, tapi tak bisa menemukan kami.

Warane memeluk lututnya yang tersilang. Rokoknya entah sudah habis berapa batang. Matanya masih lekat menatap ke ujung samudera. Aku terdiam. Mata tak berkesip.

“Di sana..”, dia menunjuk jauh ke Barat. “Senja akhirnya menemukan kami di sana pada suatu hari. Tak terduga. Tiba-tiba awan gelap menyibak, cahaya senja menerobos tirai kelabu, berubah cepat menjadi sulur-sulur membara yang melibas kami dengan gegap gempita. Di saat yang bersamaan gelombang berkhianat, menghantam perahu kami hingga berkeping-keping, menyergap Lumintang, membuntalnya ke palung hitam tak berdasar. Berpilin. Rambutnya yang hitam panjang berputar-putar pesat. Tangannya terulur berusaha menggapaiku, meremas-remas air laut yang terus menyeretnya jauh semakin dalam. Buih membuncah mengepung, mengurungku dalam dinding tak kasat mata. Setelah berpilin pesat, arus gelombang berbalik arah, membumbung ke angkasa membentuk pilar tinggi yang melontarkan Lumintang ke dalam mulut senja yang mengangga. Sempat kulihat geliginya yang runcing hitam, lidah sepekat malam, bercabang seperti ular. Lumintang hilang, dunia menggelap. Pekat.

“Kekasihku hilang ditelan senja. Naharabul Anggiteg.” ujarnya sambil tersenyum kecil. Pandangannya lekat menatap matahari yang mulai lingsir menebar warna-warni merah, jingga, nila, keemasan. Rokok daun Lisan yang terjepit di ujung jari telunjuk dan jari tengahnya terbakar sia-sia. Matanya mengembun.

Warane menoleh menatapku yang tergagu. Senyumnya mengembang, yang kemudian meledak menjadi tawa sambil menggebrak-gebrak papan lantai dermaga.

Gerahamku gemelutuk, “BANGSAT LU!”

Jakarta, 10 January 2017

Malam Pagi Siang Petang


Aku jatuh cinta kepada malam. Sudah sejak lama. Pada gulitanya, pada sunyinya, pada setan-setan yang bersemayam di balik tabir pekatnya. “Apakah kau pernah mencintaiku barang sebentar?” Tanya bulan, tanya gemerisik dedaunan, tanya angin yang menggigit, tanya berbatang-batang rokok yang kusesap sampai mengabu. Aku hanya diam. Menatap mereka kosong (kadang tersenyum kecil kalau mereka berkali-kali mengulang pertanyaan yang sama). Tak ada jawaban untuk mereka.

Aku benci pagi. Nilanya palsu. Penggoda kelas kakap, tapi selalu mengaku lugu. Pesolek yang cahayanya membuat mataku panas sinis. “Aku diam-diam selalu memandangmu”, akunya sambil tersenyum malu-malu. Pipinya merah muda. Gerahamku gemelutuk mendengarnya.

Siang hampir tak pernah hadir dalam hidupku. Dia ada tapi tak teraba. Hadir sejenak kemudian tiba-tiba menghilang begitu saja. Tak pernah kusadari. Tak pernah bertegur sapa. Kami hanya asing yang duduk di ruangan yang sama. Sibuk dengan pekerjaan masing-masing, sampai kemudian pergi. Pamitpun tidak.

Petang, perayaan yang meriah. Warna-warni menebar di mana-mana. Seronok. Gincunya kadang terlalu merah. Tapi dia tak peduli. Tawanya selalu ceria. Dia teman baikku. Teman yang mengantarkan malam di atas baki berhias bunga-bunga bakung. Kuterima dengan suka cita. Dia menatap kami sambil tetap tertawa. Lalu pergi. Dari dulu aku curiga, kalau sebenarnya petang itu gila.

Malam. Kami berkendara berdua. Menjelajah lintasan-lintasan melingkar. Mendekat ke titik pisah, tapi kemudian berbelok arah, menjauh. Meregang waktu. Hampir selalu kupegang tangannya. Halus. Cacahan aroma Cassia, Bergamot, dan Patchouli. Kayu basah. Tawanya manis sekali. Kenapa begitu pesat melesat? Kemudian harus terpisah. Gontai. Dada yang menyesak. Penuh. Menggelegak.

Pagi datang berbelaskasihan. Dipinjamkannya jubah yang berkelip nila. Tempat kami bersembunyi. Malam memanjang. Segar. Titik-titik air masih menggantung di ujung rambutnya yang galing.

Maka hanya ada malam dan jubah pagi. Berulang kali. Lagi lagi lagi. Tak mau berhenti. Tak mau berhenti. Aku mohon….

Aku mohon…

***

Permohonanku tak dikabulkan.

Dan aku mati suri. Oh tidak, bukan mati suri. Aku membatu. Dingin dan keras. Menyekap seluruh bilur-bilur biru jauh di dalam kamar-kamar bersekat padat. Rapat. Waktu tak beranjak sejengkalpun. Beku.

Kadang malam masih mengintip, pagi menghilang entah kemana, siang? Dia seperti biasa, alpa, dan petang lupa bersolek. Yang tersisa hanya rasa serupa kebas. “Ditto”, bisiknya. Samar. Hampir tak terindra. Maka terkuncilah pandora. Menyekap satu-satunya kutuk yang paling berbahaya. Asa.

Waskita Terakhir

DSC_0402a

Dia seorang tabib yang setengah tubuhnya lumpuh. Lumpuh termakan tulah yang tak kuasa ditolaknya

Dengarlah ceritaku, katanya pada suatu waktu. Aku terkutuk. Aku dikutuk langit karena waskita penyembuhku. Tak ada satu penyakitpun yang tak dapat kusembuhkan. Membawa murka para dewa. Aku menjungkir langit.

“Tubuhmu akan mati satu persatu jika kamu menggunakan waskitamu lagi,” ancam para dewa. Tapi dia seorang yang penuh kasih. Maka lumpuhlah kaki kanannya karena duka seorang ibu yang meratapi anaknya yang tak bernyawa, “kutukar kaki kananku dengan nyawa anakmu.” katanya kepada sang ibu. Lalu lumpuhlah telinga kanannya karena seorang pemuda termangu gagu, “kutukar telinga kananku dengan swaramu.” Sehingga lumpuhlah mata kanannya karena cinta anak gadis pada ayahnya yang berpasung gelam pada pergelangan kakinya, “kutukar mata kananku dengan kewarasan bapamu. Sayangilah dia sepenuh hidupmu.” Jadi lumpuhlah tangan kanannya karena tuba sanca yang merasuk tubuh putri semata wayangnya, “kutukar tangan kananku dengan hidup putriku yang gilang gemilang.’

..”Aku jatuh cinta. tapi sakit sekali rasanyakarena harus kularung sertamerta” rengeknya kepada cermin bercahaya aksara. Dan lumpuhlah hatinya, “kutukar hatiku, untuk hidupku sendiri.”

Dia seorang tabib beralis kepak elang, tubuhnya lumpuh sebagian, karena cintanya yang tak direstui alam raya.

Keping

aaron-wong_2_ice-free-diver

Aku seorang perenang tangguh. Kemampuan itu kudapat dari seekor udang kecil bertubuh bening.

Makanlah, maka kau akan mendapat kegesitan di dalam air. Alir sungai akan menjadi sayapmu. Pandangmu tak akan berkhianat. Makanlah.” Suruh nenekku sambil mengulurkan seekor udang kecil yang ditangkapnya dari sela-sela rakit bambu. Aku tertawa, ragu. Tapi tetap memasukan udang bertubuh bening itu ke mulut. Mengunyahnya hidup-hidup. Manis serupa madu bunga Soka. Masih tersenyum-senyum sendiri sambil menyesap manis udang yang masih tersisa, tak terduga, nenek mendorongku ke sungai.

Air sungai coklat pekat berarus deras itu langsung menelanku. Sekuat tenaga aku berusaha menggapai, kaki hanya menjejak air. Kepala timbul tenggelam, selangkangan menghangat. Aku berteriak kalang kabut, teriakan pertama pecah di atas permukaan air, teriakan kedua dibungkam air sungai yang merangsak masuk memenuhi mulut dan hidung. Mataku perih luar biasa. Leher seperti dibebat. Ketika segalanya mulai menggelap, tubuhku ditarik keluar dari dalam air.

Entah berapa banyak air yang kumuntahkan. Hidungku pedas, air bercampur lendir terus mengucur. Aku menangis sejadi-jadinya, memeluk erat ibu yang muntab dalam tangisnya. Tersedak berkali-kali. Memarahi nenek yang memperhatikan kami sambil duduk dengan santai, tertawa-tawa. Pengalaman hampir mati tenggelam itu benar-benar menakutkan. Pengalaman yang kualami di hari ke 5 setelah ulang tahunku yang keempat. Hari ke 6 sampai hari ke 13 kujalani di tempat tidur, demam tinggi. Tidak perlu sekolah. Asik juga.

Demam pergi, ketakutan tenggelam juga hengkang entah kemana. Bocah.

Termakan bujukan nenek, aku kembali bermain ke sungai. Membuktikan khasiat udang bertubuh bening. Entah benar karena khasiat si udang atau bukan, tubuhku benar-benar bisa mengapung di permukaan air. Aku bisa dengan bebas berenang dan menyelam. Kecepatan renangku tak ada yang mengalahkan, bisa menyelam sampai ke dasar sungai. Di dalam air, suasananya temaram, seperti rembang petang. Aku bisa dengan jelas melihat dasar sungai, pecahan-pecahan piring dan gelas yang berserakan, besi-besi karatan, sendok bengkok, barang-barang terbuang, dan remahan berharga (atau tidak berharga) yang sengaja dikubur dan dilupakan.

Sejak itu, berenang menjadi keahlian yang tak pernah mengkhianatiku…. sampai 26 tahun kemudian, hari ini.

****

Dari semua kegiatan berenang, aku paling suka menyelam. Jauh ke dasar yang paling gelap dan tersembunyi. Mengorek keping-keping yang tersembunyi di dalam timbunan pasir hitam. Semua keping yang kutemukan, kubawa dan kusimpan di dalam peti kayu trembesi yang diwariskan nenek. Sebentuk cincin berkarat berukir nama “Doune”, kaca rias bulat bergagang dengan bingkai perak —cantikkah wajah yang dulu pernah dipantulkannya?—, sebilah belati hitam, keramik Tiongkok, sehelai songket yang hanya tersisa serat-serat emasnya saja, topeng beraneka mimik dan rupa, dan banyak hal lainnya. Semua temuan itu kusimpan baik-baik. Biarlah aku yang merawatnya.

Hampir semua sungai, telaga, danau, dan lautan yang kutemui telah kuselami. Beragam keping semakin memenuhi peti kayu trembesi. Sampai pada suatu waktu, aku melewati satu daerah yang dipenuhi candi-candi pandhita purbakala, diperintah oleh seorang raja tak berputera mahkota. Di lereng Puncak Agni, aku menemukan telaga yang memancarkan gulita dari dasar palungnya.

Telaga itu berpagar lingga-lingga segi lima batu kelabu, pepohonan rindang memayungi. Burung-burung tak henti bercericit dari balik dedaunan. Jengkerik dan Behok sahut-sahutan. Telaga tak bergeming. Memandangnya, tiba-tiba bayangan kematian 26 tahun yang lalu kembali hadir, memenuhi setiap sendi di tubuhku. Aku gemetar. Gentar. Telapak tanganku basah keringat. Dingin menyergap. Permukaannya bagai hamparan sutera hitam, mengundangku untuk menyelaminya. Mengantar kematian. Maka aku menjauh. Hanya berani memandangnya dari kejauhan. Tercabik gentar dan keingintahuan.

Kuakui, rasa ingintahuku berkembang dari waktu ke waktu. Hampir menguasai sepenuhnya. Membuatku menyelam lebih jauh dari siapapun juga, tak peduli ancaman maut yang selalu membayangi. Toh aku sudah mengalahkannya 26 tahun yang lalu, pikirku. Tapi telaga berpendar gulita ini……

3 hari menyepi di bentaran jauhnya, mataku lekat menatap riak-riak sutera hitam itu. Tak berkesip. Keinginan untuk menelanjanginya benar-benar menguasaiku. Menggertakkan rahang, aku berlari menghampirinya dan menceburkan diri. Akan kukuliti kau lapis demi lapis, apa yang kau simpan?

Rembang petang telah lingsir di dalam telaga ini. Segalanya gulita. Selendang sutera hitam bergerak berusaha menjerat leherku. Dadaku gemuruh. Geraham mengatup rapat. Kelamin menegang. Aku terus bergerak ke bawah. Semakin jauh ke dalam. Buta. Aku hanya bisa meraba. Mencari dasarnya. Tak lama, kusentuh penampangnya. Lumpur bercampur pasir.  Berpacu waktu, kutelusuri dasarnya. Mata terpejam. Keping-keping kemudian tersentuh jemariku yang mulai membeku. Keping logam berukir aksara Kawi. Terbaca ujung jari. Keping pertama bertuliskan “Berahi”, keping kedua “Lepas Diri”, keping ketiga “Murka”, keping keempat “Samsara”, dan keping kelima…keping kelima…keping…..

Aku tersedak. Seluruh tubuhku kejang, kemudian menggelepar liar. Tatapku nanar, mengejar pendar gulita yang semakin dalam membenamkan. Jauh. Lebih jauh. Tangan dan kakiku semakin liar, menyibak, menghentak, pada akhirnya melayang. Ringan. Keping-keping berjatuhan. Nek, tarik aku. Mulutku megap-megap, berusaha mempertahankan gelembung terakhir hidupku yang mendesak lepas. Beriringan berarak membumbung, meninggalkanku dikungkung pekat telaga berpancar gulita.

Palembang, 23 January 2016

Pertarungan Diri

Ada tiga orang yang hidup di dalam kepalaku: (1) seorang laki-laki garang yang tersenyum penuh welas asih sambil mencabik-cabik mayat korbannya. Rambutnya ikal sebahu; (2) seorang bocah yang tertawa-tawa bermain di bawah curah hujan. Bajunya jingga kotor berlumpur; dan (3) seorang perempuan cantik berwajah semu merah dadu. Menunggang kuda hitam dengan sebilah pedang sabit berukir aksara kuno tersampir di punggung.

Mereka datang silih berganti. Tak terduga. Tak dapat diterka. Kadang mereka bermain bersama. Namun sesungguhnya, jauh tersimpan di dalam hati, masing-masing menyimpan rencana untuk meniadakan satu sama lain. 

Rencana itu diam-diam tertanam sejak aku bertemu Kabut Malam. 

Misterius, dingin, menyimpan rahasia. 

Laki-laki garang berontak jengah. Si bocah gemeletuk gerahamnya. Si gadis penyoreng pedang? Wajahnya semakin merona. Bisa kulihat senyum yang selalu merekah, entah karena apa (atau siapa). 

Laki-laki garang dan si Bocah bermuslihat untuk mengenyahkan Kabut Malam. Tak henti mengendap-endap membisik. Menghasut. Tapi pada akhirnya pedang si Gadis terlalu tajam untuk mereka berdua. Laki-laki garang kehilangan lengannya yang liat dan si Bocah harus rela menghabiskan sisa hidupnya tak bermata.

Di saat si Gadis sedang berpesta, seperti hantu, Kabut Malam undur diri. Sirna. Seperti malam yang belum sempat membasuh rindu tanah kerontang akan embun. Maka dendamlah yang tersisa. Di hati ketiganya.

Jakarta, November 2015

Kukila Wrega

Pada CS Writer Circle yang entah tanggal berapa. Tema “discrimination”. Jakarta Pusat.

******

Aku berteman dengan para memedi. Arwah-arwah gentayangan yang mengambang di antara batas hampa langit dan bumi.

Sebagian dari mereka buruk rupa. Seburuk-buruknya raga. Keropeng. Bernanah. Busuk baunya. Lebih mengerikan dari mimpi buruk semua manusia. Tapi ada juga yang rupanya sebagus kijang kencana. Cantik sekali. Selincah angin. Bau setanggi. Rupa tidak menjadi soal buat mereka. Toh mereka pandai sulih raga. Bebas menjelma apapun yang mereka suka. Bebas memilih warangka. Tidak seperti kalian.

Aku suka menjadi bagian dunia para memedi. Menari liar di atas nisan-nisan yang entah milik siapa, lapuk, dan menjadi sarang kumbang-kumbang renta di kala matahari mulai mengendap-endap pergi meninggalkan ekornya yang berapi nila. Tertawa-tawa. Menghentak-hentak. Mengejang-ejang. Aroma mayit berpilin wangi setanggi. Peduli setan dengan tata krama. Peduli setan. Toh mereka juga tak peduli aku manusia.

Ya. Kalian menyebutnya setan. Aku berteman dengan mereka. Peduli setan. Mereka menerimaku. Kalian tidak.

Aku. Kukila Wrega. Mereka memanggilku Si Hitam yang Sepekat Malam.